Rapat Reuni SMA Negeri 1 Bekasi
by Komar Ibnu Mikam on May.06, 2012, under Uncategorized

Mpok Iis, Seksi Acara, "Hayo siapa yang mau disunat. Yang disebelah lagngsung mengkeret...haduhhh, jangan2 gue lagi..."
Pikiran Terkadang Menipu
by Komar Ibnu Mikam on Feb.01, 2012, under Uncategorized
Manusia digerakan oleh apa yang dipikirkan. Memahami apa yang dipikirkan bisa didapat dari apa yang dikatakan.
Seoang pecundang ketika diberikan tantangan ia mengatakan ini gampang tapi sulit….tapi seorang pemenang akan mengatakan ini memang sulit untuk dilakukan tapi bisa diusahakan….
Atau, suatu ketika seseorang liburan di Bali. Sebelas hari.
Sepuluh hari dilakoni dengan bersenang-senang, dugem dan santai.
namun,
hari ke sebelas, ia mendapat musibah. Mobilnya nabrak mobil lain. Ia pun luka parah. Tebak apa yang ada dalam pikirannya? tentu betapa menyedihkannya mendapat musibah tabrakan. kepala bondas. kaki lecet-lecet. Nah, apa yang ada dipikiran ia? Apalagi kalau bukan musibah tadi. Padahal, 10 hari sebelum ia lahap dengan kesenangan demi kesenangan.
anusia memiliki 2 unsur didalam diri yang berperan dalam kehidupannya yaitu unsur fisik dan non fisik. Unsur fisik adalah tubuh anda beserta semua panca inderanya, sedangkan unsur non fisik adalah pikiran anda. Keduanya memiliki peran yang berbeda namun berada di dalam satu bentuk yaitu diri anda. Keduanya tidak dapat berdiri sendiri sehingga saling bergantung. Seperti halnya tubuh tidak akan dapat menjalankan fungsinya tanpa adanya pikiran, begitu juga pikiran tidak dapat terwujud tanpa dibantu oleh tubuh sebagai pelaksananya.
Cara Pikiran Bekerja
Anda mungkin tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri anda adalah hasil dari apa yang ada di pikiran anda.
Tubuh anda hanyalah menjalankan perintah dari pikiran yang kemudian akan direspon oleh alam semesta dengan feedback yang sama. Jika anda melakukan sesuatu yang positif, alam semesta akan memberikan feedback yang positif pula.
Jika anda melakukan sesuatu yang negatif, maka alam semesta juga akan memberikan feedback yang negatif. Pertanyaannya adalah bagaimana anda bisa melakukan sesuatu yang positif jika perintah yang keluar dari pikiran anda adalah negatif. Tidak mungkin bukan? Dengan kata lain, pikiran lah yang menguasai tubuh. Istilahnya garbage in, garbage out. Sampah yang masuk, sampah yang keluar.
Setiap input baru yang masuk kedalam pikiran akan makin memperkuat masing-masing kelompok lapisan tersebut sesuai dengan jenisnya. Beberapa input yang membentuk lapisan positif adalah rasa simpati, kebahagiaan, belas kasih, keikhlasan, rasa percaya diri, optimis, keyakinan, konsentrasi. Beberapa input yang membentuk lapisan negatif adalah kemarahan, kebencian, ketakutan, kekhawatiran, kesombongan, iri hati, keegoisan, keputusasaan, mengasihani diri sendiri, rasa bersalah, pesimis, minder.
Nah, sekarang bisakah anda bayangkan bahwa jika anda terlalu banyak memasukkan input negatif ke dalam pikiran, maka kelompok lapisan negatif itulah yang akan mendominasi pikiran anda. Anda pasti mengalami ketika ada seseorang yeng bercerita tentang keburukan orang lain. Sadarlah…sesadar-sadarnya bahwa ketika itu orang itu dan diri Anda sendiri sedang diracuni dengan hal-hal negatif. Maka lawan! dari dalam harus punya pikiran LAWAN! BELUM TENTU ia serusak itu…!
Mengapa ia tidak tabayun langsung ke orangnya? Mengapa harus kita yang diajak bicarfa? Lawan dengan menyatakan dalam diri bahwa YA ada sesuatu yang masih belum lengkap untuk menarik kesimpulan bahwa ia sejahat itu. Lalu, kalau memang benar demikian. jangan tinggalkan oenag itu. Biarpun ia penjahat. Tapi kalau ia tidak menjahati apakah kita juga ikut2an harus mencapnya sebagai penjahat.
tenang kawan! Lihatlah warna…..betapa semua warna selalu relatif. Kuning kadang tanda ada yang meninggal. Tapi, di dunia politik, kuning adalah lambang sebuah parpol yang berkuasa. Dan, setiap manusia tidak selalu hitam dan tidak selamanya putih. Pasti ada sisi abu-abu yang kita tidak tahu. dan, itu privasi dia!
Ok, jadi bersikaplah tenang dan positif. Install semangat untuk selalu positif, optimis dan objektif. karena teman kita masih manusia. Bukan malaikat. Santai ajja bro, biarkan waktu yang akan membuktikan siapa diantara mereka yang bajingan. itupun, kalau benar salah satunya bajingan. Biarkan saja. Sejauh ia tidak nyolek-nyolek kita. Tapi, kalau udah nyolek kita, Cincang! TEBAK PHOTO
Talking About Innovations:
by Komar Ibnu Mikam on Jan.31, 2012, under Uncategorized
Innovation is the creation of better or more effective products, processes, services, technologies, or ideas that are accepted by markets, governments, and society. Innovation differs from invention in that innovation refers to the use of a new idea or method, whereas invention refers more directly to the creation of the idea or method itself.
[inovasi merupakan kreasi produk yang lebih efektif, proses yang lebih efektif, pelayanan yang lebih baik, teknologi yang lebih efesien atau ide-ide yang diterima oleh pasar, pemerintah dan masyarakat. Inovasi berbeda dengan invention (penemuan). Inovasi bermakna ide baru atawa metode anyar. Sementara invention lebih merujuk pada ide pembuatan kreasi atau metode itu sendiri)
The word innovation derives from the Latin word innovatus, which is the noun form of innovare "to renew or change," stemming from in—"into" + novus—"new". Diffusion of innovation research was first started in 1903 by seminal researcher Gabriel Tarde, who first plotted the S-shaped diffusion curve. Tarde (1903) defined the innovation-decision process as a series of steps that includes:[1]
kata innovasi dirajut dari bahasa Latin “innovatus’ yang artinya memperbaharui atau mengubah. Mneurut Tarde (1903) ada beberapa proses pengambilan keputusan untuk melakukan inovasi yakni:
1. First knowledge (pengetahuan)
2. Forming an attitude (membentuk sikap/penyikapan)
3. A decision to adopt or reject (keputusan untuk mengadopsi atau menolak)
4. Implementation and use (implementasi dan menerapkan)
5. Confirmation of the decision (Memastikan keputusan)
Due to its widespread effect, innovation is an important topic in the study of economics, business, entrepreneurship, design, technology, sociology, and engineering. In society, innovation aids in comfort, convenience, and efficiency in everyday life. For instance, the benchmarks in railroad equipment and infrastructure added to greater safety, maintenance, speed, and weight capacity for passenger services. These innovations included wood to steel cars, iron to steel rails, stove-heated to steam-heated cars, gas lighting to electric lighting, diesel-powered to electric-diesel locomotives. By mid-20th century, trains were making longer, more comfortable, and faster trips at lower costs for passengers.[2] Other areas that add to everyday quality of life include: the innovations to the light bulb from incandescent to compact fluorescent and LEDs which offer longer-lasting, less energy-intensive, brighter technology; adoption of modems to cellular phones, paving the way to smartphones which meets anyone’s internet needs at any time or place; cathode-ray tube to flat-screen LCD televisions and others.
[edit] Business and economics
Main article: innovation economics
In business and economics, innovation is the catalyst to growth. With rapid advancements in transportation and communications over the past few decades, the old world concepts of factor endowments and comparative advantage which focused on an area’s unique inputs are outmoded for today’s global economy. Now, as Harvard economist Michael Porter points out competitive advantage, or the productive use of any inputs, which requires continual innovation is paramount for any specialized firm to succeed.[3] Economist Joseph Schumpeter, who contributed greatly to the study of innovation, argued that industries must incessantly revolutionize the economic structure from within, that is innovate with better or more effective processes and products, such as the shift from the craft shop to factory. He famously asserted that “creative destruction is the essential fact about capitalism.”[4] In addition, entrepreneurs continuously look for better ways to satisfy their consumer base with improved quality, durability, service, and price which come to fruition in innovation with advanced technologies and organizational strategies. [5]
One prime example is the explosive boom of Silicon startups out of the Stanford Industrial Park. In 1957, dissatisfied employees of Shockley Semiconductor, the company of Nobel laureate and co-inventor of the transistor William Shockley, left to form an independent firm, Fairchild Semiconductor. After several years, Fairchild developed into a formidable presence in the sector. Eventually, these founders left to start their own companies based on their own, unique, latest ideas, and then leading employees started their own firms. Over the next 20 years, this snowball process launched the momentous startup company explosion of information technology firms. Essentially, Silicon Valley began as 65 new enterprises born out of Shockley’s eight former employees. [6]
[edit] Organizations
In the organizational context, innovation may be linked to positive changes in efficiency, productivity, quality, competitiveness, market share, and others. All organizations can innovate, including for example hospitals[7], universities, and local governments. For instance, former Mayor Martin O’Malley pushed the City of Baltimore to use CitiStat, a performance-measurement data and management system that allows city officials to maintain statistics on crime trends to condition of potholes. This system aids in better evaluation of policies and procedures with accountability and efficiency in terms of time and money. In its first year, CitiStat saved the city $13.2 million.[8] Even mass transit systems have innovated with hybrid bus fleets to real-time tracking at bus stands. In addition, the growing use of mobile data terminals in vehicles that serves as communication hubs between vehicles and control center automatically send data on location, passenger counts, engine performance, mileage and other information. This tool helps to deliver and manage transportation systems.[9]
Still other innovative strategies include hospitals digitizing medical information in electronic medical records; HUD’s HOPE VI initiatives to eradicate city’s severely distressed public housing to revitalized, mixed income environments; the Harlem Children’s Zone that uses a community-based approach to educate local area children; and EPA’s brownfield grants that aids in turning over brownfields for environmental protection, green spaces, community and commercial development.
[edit] Processes
[edit] Sources of innovation
There are several sources of innovation. According to the Peter F. Drucker the general sources of innovations are different changes in industry structure, in market structure, in local and global demographics, in human perception, mood and meaning, in the amount of already available scientific knowledge, etc. Also, internet research, developing of people skills, language development, cultural background, skype, facebook, etc. In the simplest linear model of innovation the traditionally recognized source is manufacturer innovation. This is where an agent (person or business) innovates in order to sell the innovation. Another source of innovation, only now becoming widely recognized, is end-user innovation. This is where an agent (person or company) develops an innovation for their own (personal or in-house) use because existing products do not meet their needs. MIT economist Eric von Hippel has identified end-user innovation as, by far, the most important and critical in his classic book on the subject, Sources of Innovation.[10] In addition, the famous robotics engineer Joseph F. Engelberger asserts that innovations require only three things: 1. A recognized need, 2. Competent people with relevant technology, and 3. Financial support. [11]
Innovation by businesses is achieved in many ways, with much attention now given to formal research and development (R&D) for “breakthrough innovations.” R&D help spur on patents and other scientific innovations that leads to productive growth in such areas as industry, medicine, engineering, and government.[12] Yet, innovations can be developed by less formal on-the-job modifications of practice, through exchange and combination of professional experience and by many other routes. The more radical and revolutionary innovations tend to emerge from R&D, while more incremental innovations may emerge from practice – but there are many exceptions to each of these trends.
An important innovation factor includes customers buying products or using services. As a result, firms may incorporate users in focus groups (user centred approach), work closely with so called lead users (lead user approach) or users might adapt their products themselves. U-STIR, a project to innovate Europe’s surface transportation system, employs such workshops. [13] Regarding this user innovation, a great deal of innovation is done by those actually implementing and using technologies and products as part of their normal activities. In most of the times user innovators have some personal record motivating them. Sometimes user-innovators may become entrepreneurs, selling their product, they may choose to trade their innovation in exchange for other innovations, or they may be adopted by their suppliers. Nowadays, they may also choose to freely reveal their innovations, using methods like open source. In such networks of innovation the users or communities of users can further develop technologies and reinvent their social meaning.[14]
[edit] Value of experimentation
When an innovative idea requires a better business model, or radically redesigns the delivery of value to focus on the customer, a real world experimentation approach increases the chances of market success. Potentially innovative business models and customer experiences can’t be tested through traditional market research methods. Pilot programs for new innovations set the path in stone too early thus increasing the costs of failure. On the other hand, the good news is that recent years have seen considerable progress in identifying important key factors/principles or variables that affect the probability of success in innovation. Of course, building successful businesses is such a complicated process, involving subtle interdependencies among so many variables in dynamic systems, that it is unlikely to ever be made perfectly predictable. But the more business can master the variables and experiment, the more they will be able to create new companies, products, processes and services that achieve what they hope to achieve.[15][16]
[edit] Goals/failures
Programs of organizational innovation are typically tightly linked to organizational goals and objectives, to the business plan, and to market competitive positioning. One driver for innovation programs in corporations is to achieve growth objectives. As Davila et al. (2006) notes, “Companies cannot grow through cost reduction and reengineering alone… Innovation is the key element in providing aggressive top-line growth, and for increasing bottom-line results.” [17]
One survey across a large number of manufacturing and services organizations found, ranked in decreasing order of popularity, that systematic programs of organizational innovation are most frequently driven by: Improved quality, Creation of new markets, Extension of the product, range, Reduced labor costs, Improved production processes, Reduced materials, Reduced environmental damage, Replacement of products/services, Reduced energy consumption, Conformance to regulations.[17]
These goals vary between improvements to products, processes and services and dispel a popular myth that innovation deals mainly with new product development. Most of the goals could apply to any organisation be it a manufacturing facility, marketing firm, hospital or local government. Whether innovation goals are successfully achieved or otherwise depends greatly on the environment prevailing in the firm.[18]
Conversely, failure can develop in programs of innovations. The causes of failure have been widely researched and can vary considerably. Some causes will be external to the organization and outside its influence of control. Others will be internal and ultimately within the control of the organization. Internal causes of failure can be divided into causes associated with the cultural infrastructure and causes associated with the innovation process itself. Common causes of failure within the innovation process in most organisations can be distilled into five types: Poor goal definition, Poor alignment of actions to goals, Poor participation in teams, Poor monitoring of results, Poor communication and access to information. [19]
[edit] Diffusion
InnovationLifeCycle.jpg
Main article: Diffusion of innovations
Once innovation occurs, innovations may be spread from the innovator to other individuals and groups. This process has been proposed that the life cycle of innovations can be described using the ‘s-curve’ or diffusion curve. The s-curve maps growth of revenue or productivity against time. In the early stage of a particular innovation, growth is relatively slow as the new product establishes itself. At some point customers begin to demand and the product growth increases more rapidly. New incremental innovations or changes to the product allow growth to continue. Towards the end of its life cycle growth slows and may even begin to decline. In the later stages, no amount of new investment in that product will yield a normal rate of return.
The s-curve derives from an assumption that new products are likely to have “product life”. i.e. a start-up phase, a rapid increase in revenue and eventual decline. In fact the great majority of innovations never get off the bottom of the curve, and never produce normal returns.
Innovative companies will typically be working on new innovations that will eventually replace older ones. Successive s-curves will come along to replace older ones and continue to drive growth upwards. In the figure above the first curve shows a current technology. The second shows an emerging technology that currently yields lower growth but will eventually overtake current technology and lead to even greater levels of growth. The length of life will depend on many factors.[20]
[edit] Measures
There are two fundamentally different types of measures for innovation: the organizational level and the political level.
[edit] Organizational level
The measure of innovation at the organizational level relates to individuals, team-level assessments, and private companies from the smallest to the largest. Measure of innovation for organizations can be conducted by surveys, workshops, consultants or internal benchmarking. There is today no established general way to measure organizational innovation. Corporate measurements are generally structured around balanced scorecards which cover several aspects of innovation such as business measures related to finances, innovation process efficiency, employees’ contribution and motivation, as well benefits for customers. Measured values will vary widely between businesses, covering for example new product revenue, spending in R&D, time to market, customer and employee perception & satisfaction, number of patents, additional sales resulting from past innovations. [21]
[edit] Political level
For the political level, measures of innovation are more focused on a country or region competitive advantage through innovation. In this context, organizational capabilities can be evaluated through various evaluation frameworks, such as those of the European Foundation for Quality Management. The OECD Oslo Manual (1995) suggests standard guidelines on measuring technological product and process innovation. Some people consider the Oslo Manual complementary to the Frascati Manual from 1963. The new Oslo manual from 2005 takes a wider perspective to innovation, and includes marketing and organizational innovation. These standards are used for example in the European Community Innovation Surveys. [22]
Other ways of measuring innovation have traditionally been expenditure, for example, investment in R&D (Research and Development) as percentage of GNP (Gross National Product). Whether this is a good measurement of innovation has been widely discussed and the Oslo Manual has incorporated some of the critique against earlier methods of measuring. The traditional methods of measuring still inform many policy decisions. The EU Lisbon Strategy has set as a goal that their average expenditure on R&D should be 3% of GDP. [23]
[edit] Indicators
Many scholars claim that there is a great bias towards the “science and technology mode” (S&T-mode or STI-mode), while the “learning by doing, using and interacting mode” (DUI-mode) is widely ignored. For an example, that means you can have the better high tech or software, but there are also crucial learning tasks important for innovation. But these measurements and research are rarely done.
A common industry view (unsupported by empirical evidence) is that comparative cost-effectiveness research (CER) is a form of price control which, by reducing returns to industry, limits R&D expenditure, stifles future innovation and compromises new products access to markets.[24] Some academics claim the CER is a valuable value-based measure of innovation which accords truly significant advances in therapy (those that provide ‘health gain’) higher prices than free market mechanisms.[25] Such value-based pricing has been viewed as a means of indicating to industry the type of innovation that should be rewarded from the public purse.[26] The Australian academic Thomas Alured Faunce has developed the case that national comparative cost-effectiveness assessment systems should be viewed as measuring ‘health innovation’ as an evidence-based concept distinct from valuing innovation through the operation of competitive markets (a method which requires strong anti-trust laws to be effective) on the basis that both methods of assessing innovation in pharmaceuticals are mentioned in annex
Pertanian, Definisi
by Komar Ibnu Mikam on Dec.20, 2011, under Uncategorized
Menurut wikipedia, Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor – sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh “petani tembakau” atau “petani ikan”. Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak.
Daftar isi
[/caption]
Joke : Suami dan Istri
by Komar Ibnu Mikam on Nov.17, 2011, under Uncategorized
Istri: Kamu selalu membawa fotoku didompetmu ke kantor. Kenapa?
Suami: Supaya kalau ada masalah, seberat apapun, aku akan memandang fotomu dan masalah itupun lenyap.
IstrI: Oh…itu kedengarannya manis sekali. Rupanya fotoku punya pengaruh yang hebat juga ya buatmu.
Suami: Tentu saja. Aku cukup memandang foto itu dan berkata pada diri sendiri: Memangnya masalah apa yg bisa lebih besar dari ini!
Cerpen Komedi : Misteri Muka Bau Pesing
by Komar Ibnu Mikam on Nov.15, 2011, under Uncategorized
Misteri Muka Bau Pesing
Ini kisah nyata. Terjadi di SMA Negeri I Bekasi di era 1989-1990. Namun, agar enak dibaca cerita ini dibuat seperti sebuah cerpen komedi. Nama dan tempat di samarkan untuk menjaga privasi sang pelaku.
Siang di fisik 2, SMA 1 Megapolitan. Panas terik menikam kepala. Gerah menyelimut dengan bau pabrik kertas KBT yang semakin hari semakin kurang ajar. Sumpah..baunya lebih hebat dari kentutnya si Acun. Itu lho…anak paling pinter seantero SMA.
Siang memang waktu yang paling menyebalkan. Apalagi, jam-jam terakhir, bawaanya ngantuk terus. Sialnya lagi, giliran Bu Nong, guru bahasa Indonesia. Yang kalau ngomong seperti putri solo. Kalau kakinya kelindas traktor, pasti ngomongnya gini, ‘stooop…kaki saya kelindesss…..” Huuh…amboi…lengkaplah sudah penderitaan anak-anak kelas.
Baru beberapa menit, doi ngejelasin soal diftong. Si Acun udah puluhan kali mangap. Angop. Whoooah… Persis buaya Ragunan yang lagi kelaparan. Ngantuk berat, maklum doi kebanyakan belajar semalam jadi pas siang ngantuk.
Si Agus Thegal, yang duduk dibelakang ngeliat Acun sembari meringis. Anak kerempeng dengan rambut model Brad Pitt ini yang lagi asyik nyodok-nyodok jigongnya sendiri kemudian menempelkan dihidungnya, Nyengir kuda. “Ting..” mendadak ia punya ide. Seperti iklan yang di kepalanya muncul banyak lampu bohlam menyala.
Mendadak ia mengacungkan tangan, “bu izin mau pamit?”
Langsung seantero kelas bunyi, “huuu….jangan boleh buu..cuman alesan..doang.”
Maklumlah selebritis kelas teri, apa saja yang dikerjain pasti dikomentari infotainment. Si Eq yang duduk di belakang langsung menjeguk kepalanya, “paling-paling lu mau coli khan…? Emang sabunnya udah bawa..?”
Si Ortega cuma cengengesan. Bukannya marah malah tambah ge er, “Loe-loe pade nggak percaya ama gue..hah? kalo gue emang kebelet mau pipis?” ia berdiri sambil bertolak pinggang persis datuk Maringgih yang sedang murka.
“Sumpaaaaaaaaaahh…kagaaaaaaaak…!” serempak kompak sekelas. Eh, si Thegal nekad, doi menurunkan retsletingnya dan menyodorkannya kepada Yanti, cewek bahenol yang emang udah lama ditaksir sama si Ortega. “Ni..liat kalo nggak
percaya!”
Lha dasar si Thegal, apa urusannya soal percaya gak percaya dengan ‘sesuatu’ miliknya. Dikasihnya ke Yanti lagi. Dasarrr…!
Amit-amit cabang bayi, sempak lima rebuan tiga yang dibeli di pasar Tanah Abang berwarna merah itu diperlihatkan. Kontan si Yanti menutup mata. Mungkin, lebih baik nemuin seribu tuyul daripada ngeliat sempaknya Thegal, apalagi isinya, hiiih pasti seraaam.
“Hiiih….” Yanti melekatkan telapak tangan di matanya. Lain Yanti, lain Kristin, yang duduk di sebelahnya. Ia kontan merasa ada serigala yang mau keluar dari perutnya. “Uweee….” Persis ibu-ibu yang ngidam.
“Woi, Gal…songong loe, loe pengen bunuh semua wanita di sini?” teriak Feber Bon, yang duduk di sebelah kanannya.
“Sudah..sudah….Agus keluar sana…!” Bu Nong menginterupsi dan menyuruh si Thegal keluar.
“He..he..he..” si Ortega nyengir kuda, merasa dibela oleh bu Nong.
Sembari jalan ia berpaling ke arah anak-anak yang lain. “Wee…we….” Bibirnya yang sudah panjang tambah panjang.
Kelas kembali normal setelah ‘sang perusuh’ keluar. Mungkin harga dollar kembali stabil. Ekonomi kembali normal dan suasana politik pun kembali lancar. Repotnya, si Acun lagi-lagi nguap. “Hooo..aaahh” laki-laki satu ini kalau lagi nguap rambutnya berdiri. Jocong.
Rupanya, bu Nong memperhatikan. Doi langsung ngomong, “Asrul, kamu ngantuk yah. Sudah keluar sana…!”
“Eh…i…i..iya..bu…anu..bu..” Acun gelagapan.
Si Ronne yang duduk disebelah Acun langsung nyenggol, “udah sono luh keluar..”
Acun berdiri dan beranjak keluar. Di pintu Acun dan si Ortega papasan. Keduanya bertatapan sebentar dan seperti biasa, si Tegal nyengir ngeselin. Beneran, seumur idup cuma doi doang yang punya senyum khas ngeselin kayak gitcu.
“He…he..he..he…” dengan langkah yang noraknya minta ampun, si Ortega duduk. “gueee.…”
Belom sepuluh menit, si Acun sudah balik lagi ke kelas. Langsung duduk di sebelah Ronne. Rambut dan mukanya basah. Sekarang kelihatan lebih segar dibanding sebelumnya. Tapi, ada yang aneh. Ada bau beda dan aneh yang menyengat lebih dari bau toilet. Persis seperti bau kencing kambing yang makan jengkol dua karung..
“Cun, loe..cuci muka apa mandi air kencing ?.. koq…bau pesing seh…” si Eq yang sedari tadi sibuk mencet-mencetin jerawat jadi megang hidungnya. Untunglah, Acun save by the bell. Lonceng berbunyi, Pak Dirun, sang penjaga sekolah kembali dengan setia memukul besi bekas rel kereta api sebagai bel pulang.
Sementara si Ortega di belakang cengengesan, “Acun…rasain..loe!”
Kik..kik..kik…
Enam belas tahun kemudian. Senin, tanggal 27 September 2006. Pukul 19:00, Feber Bon bertemu langsung dengan Pemeran Utama kedua yaitu Sdr. Agus yang kerap dipanggil Ortega.. Dalam kesempatan tersebut, Feber Bon berlagak seperti pegawai KPK yang menemukan ‘tersangka korupsi’ kelas kakap melakukan wawancara exclusive selama kurang lebih 1 jam.
Berikut disampaikan petikan wawancara exclusive wartawan infotainment gadungan dengan Pemeran Utama sekaligus nara sumber Sdr. Ortega.
Feber : “Ghal… gimana kabar lho..(sambil bersalaman)”
Ortega : “Baik…! Elo gimana?”
Feber : “Baik juga,..Gile… gemukan lho…..!”
Ortega : “he..he..he…… Jamunya cocok……….” (mungkin
maksudnya susunya cocok..:red.)
Feber : “Eh…. lu suka maen internet nggak?”
Ortega : “Busyet….Gua maen komputer aja kagak pernah……….emangnye kenape…??”
Feber : “Kagak, di internet ada photo lu sama anak-anak yang laennya, yang bikin EQ.”
Ortega : “Photonya anak-anak geng belakang ada nggak???”
(Maksudnya, anak-anak yang duduk di bangku belakang waktu di kelas
dulu.:red.)
Feber : “Ada Ghal……, Si EQ juga bikin Milist…. anggotanya kebanyakan anak 90′, kebetulan hari ini obyek pembicaraannya elu…..”
Ortega : “Eit.. gua diomongin apa’an..?? (nara sumber balik bertanya)
Feber : “Kaga, lu inget si Kampret khan??”
Ortega : “Ooh itu yang seumur-umur gak punya pacara? Ditolaaak mulu?”
Feber : “Iye…beneeeer…”
Ortega :”….. iye gue inget….terus..
Feber : “Iye die bikin tulisan berdasarkan kisah nyata loe judulnya “Acun, Rasain Loe.!”….
Feber menceritakan kembali cerita di bawah dengan maksud untuk mengingat masa lalu tanpa ada maksud untuk meminta klarifikasi dari beliau. Nara Sumber mendengarkan dengan seksama dan tanpa kami duga Nara Sumber melakukan klarifikasi..
Ortega : “Eh.. bukan begitu ceritanya Ta”…….. [gile…si Ortega nampak marah. matanya melotot]
Feber : “Emang ceritanya gimana Ghal…..??”
Ortega : “Gua tuh kagak pernah kencing di bak kamar mandi
sekolah……..”
Feber : “Koq ceritanya laen…..??????? terus………..??”
Ortega : “Beneran, sumpah gua kagak pernah kencing di bak, kagak bener tuh….” Feber semakin penasaran……
Ortega : Yang bener.., gua kalo kencing seperti biasa lah bukan di bak, gila apa gua.?………tapi emang gua kagak pernah siram sih….Gua khan suka kebelet BAB tuh…
Nah setiap gua boker……, pas gua mau cebok, gua kagak pernah pake gayung……
Biasanya gua langsung nyelupin pantat gua di bak sambil gua bersihin………………
Feber : huaa..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha…ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..h a..ha..ha..ha…
Ma’af pembaca kami tidak sanggup melanjutkan penulisan petikan wawancara ini …karena mendadak kami kehilangan naskah penulisan di otak kami Sa’at ini yang terbayang di otak kami hanya mukanya Pemeran utama pertama (Acun)……. []
Rumah Seribu Cermin
by Komar Ibnu Mikam on Nov.13, 2011, under Uncategorized
Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal d engan nama "Rumah Seribu Cermin." Suatu hari seekor kucing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin.
Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria kucing-kucing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah kucing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.
Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Sesaat setelah kucing itu pergi, datanglah kucing kecil yang lain.
Namun, kucing yang satu ini tidak seceria kucing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu.
Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu.
Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah kucing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan.
Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya
sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang kita lihat ... adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri.
Bila Anda masuk kantor dengan keramahan dan keceriaan maka yang muncul dari penghuni kantor di dalam ada keramahan dan keceriaan pula.
Begitu sebaliknya.
Bila yang keluar dari anda cemberut, marah-marah bahkan ngamuk-ngamuk maka yang kelur adalah cemberut dan kemarahan pula !
Begitulah. Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah... Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan...
So, wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang kita jumpai?
Yang terlihat itu adalah gambaran wajah kita di mata orang lain ...
Buktikan sendiri ...
Kredibilitas
by Komar Ibnu Mikam on Nov.13, 2011, under Uncategorized
Kredibilitas adalah sesuatu yang sangat berharga. Sekali kredibilitas telah hilang, akan sangat sulit untuk bisa diperoleh kembali. Tanpa kredibilitas, adalah mustahil untuk memelihara suatu sukses. Perhatikan saja dalam lingkungan yang penuh ketidak percayaan dan prasangka, hanya sedikit yang bisa dicapai seseorang.
Janji dan komitmen bukan sekedar alat. Jauh lebih penting lagi, keduanya adalah apa yang kita perlukan untuk membangun ataupun menghancurkan kredibilitas. Oleh karena itu, kita harus memilih komitmen apa yang mampu kita berikan, dan janji apa yang mampu kita tepati.
Sebuah kredibilitas yang kuat dan nyata, bisa membawa anda maju. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap kredibiitas. Jangan korbankan itu demi kepentingan sesaat. Berkatalah jujur, hormati komitmen anda, dan anda akan mampu meraih apa yang sekarang bahkan tidak mampu anda mimpikan.
Tahukah Anda.
Sejenis spesies bunga laut, yang disebut bunga laut merah,
dapat dicacah-cacah dan dicincang dengan melewati sebuah
saringan hingga badannya terpotong atas ribuan bagian halus.
Walau begitu, hewan ini tidaklah mati. Saat air diendapkan,
masing-masing bagian potongan akan bergerak mendekat dan
menyusun diri. Dalam beberapa jam, bunga laut tadi akan
menyatu dan kembali membentuk bunga laut utuh seperti semula.
Pejaten, 02 Agustus 2002
Kata Bijak Hari Ini.
Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan.
Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara.
Semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar.
Mangapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu?
(Edward Hersey Richards)
Dioyok-oyok!
by Komar Ibnu Mikam on Nov.13, 2011, under Uncategorized
Dioyok-oyok!
Mentari lelah
Malam merebah
Mangga Kong Arpiah pun memancing gairah
Ah, manisnya
Dimakan tanpa perlu dikelet
Cukup dipotong dan dibelek-belek
Digarot ampe merem melek
Makannya dibelakang rumah Pak Alek
Ah, manisnya
Mangga harum manis
Makannya sembari bayangin si Lilis
Aih, manisnya
Ditengah malam kumengendap
Dibalut kelam kuincar mangga sedap
Satu dua langkah kudapat
Kupanjat batang mangga
Kupeluk erat-erat
Mangga Diincer
Gak tahan bibir ngiler
Hati dag dig dug ser
Ambil satu langsung digragot
Ah, digigit lepas dari bibir
Mangga jatuh bikin berisik
Kong Arpiah lagi asik terusik
Bikin gue langsung bergidik
Tak perlu pikir panjang berjilid
Merosot ampe perod
Lom nyampe bumi langsung nibla
“Woi…sapa tuh!”
Menggelegar suara kong Arpiah
Peci putih uban putih
Oblong putih yang bolong
Bikin gue langsung ngibrit
Lari terbirit-birit
karena gue dioyok-oyok……..
oh, nasib………………….
Resensi buku : Jadilah seorang yang Sabar
by Komar Ibnu Mikam on Nov.13, 2011, under Uncategorized
Anda Akan merasakan betapa ‘Sabar’ merupakan kekuatan tak terkira yang mampu meledakan energi potensial Anda…..
Inilah Daya ungkit menundukan diri sendiri untuk meraih kesuksesan
Di buku ini Sabar bukan sekadar pengetahuan. Tapi energi penggerak, modal dasar untuk meniti karir cemerlang.
SABAR, JALAN KEHIDUPAN MERAIH KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT!
Bacalah Buku ini, niscaya Anda akan merasakan pelbagai khasiatnya!
Diterbitkan dengan desain interior dinamis. Nyaman di baca.
BERBEDA dari yang ADA







